Santri dan Knowledge Management: Refleksi Sosial Hari Santri Nasional

Oleh: Rheza Ega Winastwan

Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto

 

Setiap 22 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Santri Nasional — sebuah momentum yang tidak hanya mengingatkan kita pada perjuangan historis kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga menjadi refleksi atas peran santri dalam membangun peradaban ilmu di masa kini.

Sebagai dosen di bidang Perpustakaan dan Sains Informasi, saya melihat bahwa semangat santri memiliki relevansi mendalam dengan konsep Knowledge Management (KM). Dalam dunia manajemen pengetahuan, sebagaimana dijelaskan oleh Nonaka dan Takeuchi (1995) melalui model SECI (Socialization, Externalization, Combination, Internalization), pengetahuan diciptakan, dibagikan, dan dikembangkan melalui proses sosial yang berkelanjutan.

Menariknya, praktik serupa telah lama hidup dalam tradisi pesantren: santri belajar melalui interaksi sosial (halaqah), menuliskan kembali hasil pemahaman (ta’liq), memadukan berbagai sumber ilmu, dan menginternalisasikannya ke dalam perilaku serta kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pesantren merupakan ekosistem knowledge managementyang organik dan berbasis nilai.

Dalam perspektif teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann (1966), pengetahuan dibentuk melalui interaksi sosial dan dilembagakan dalam struktur budaya. Tradisi keilmuan pesantren adalah contoh nyata bagaimana masyarakat membangun, memelihara, dan mewariskan pengetahuan secara kolektif.

Sementara itu, menurut Pierre Bourdieu, proses tersebut membentuk habitus — kebiasaan intelektual seperti membaca, berdiskusi, dan menulis yang menguatkan modal kultural komunitas santri. Ketika habitus ini diintegrasikan ke dalam sistem perpustakaan dan literasi digital, lahirlah generasi pembelajar yang tidak hanya berpengetahuan, tetapi juga beradab dalam mengelola informasi.

Di era digital saat ini, tantangan literasi tidak lagi sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk mengelola pengetahuan secara kritis dan etis. Konsep knowledge sharing dan knowledge transfer menjadi krusial dalam lingkungan akademik dan perpustakaan. Perpustakaan modern tidak hanya menyimpan informasi, tetapi berfungsi sebagai ruang sosial tempat terjadinya pertukaran pengetahuan — menciptakan nilai baru melalui kolaborasi dan inovasi.

Dalam konteks inilah, santri masa kini dapat dipahami sebagai agen knowledge management yang sejati. Mereka tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga mendiseminasikannya melalui jaringan sosial, media digital, dan aktivitas akademik. Dengan demikian, jihad santri di era sekarang bukan lagi angkat senjata, melainkan jihad literasi dan pengetahuan: menjaga kebenaran, mengembangkan ilmu, dan mendiseminasikannya untuk kemaslahatan umat.

Hari Santri Nasional mengingatkan kita bahwa pengetahuan adalah amanah. Ia tidak berhenti di ruang baca, melainkan harus terus mengalir — sebagaimana air yang menghidupkan. Di tangan santri, pustakawan, dan akademisi, manajemen pengetahuan menjadi bagian dari ibadah intelektual yang membangun peradaban.

“Santri melek literasi, bangsa kuat berpengetahuan.”

Mari jadikan semangat santri sebagai inspirasi dalam mengelola, membagikan, dan menghidupkan kembali pengetahuan di tengah masyarakat digital yang terus berubah.